Tampilkan postingan dengan label CERITAKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITAKU. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2015

Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

skripsi itu nggak ada efek nyata dan langsung untuk kita setelah lulus kuliah, kecuali bagi mereka yang pengin kuliah lagi di bidang yang sama atau bekerja di bidang yang sama -jadi dosen atau praktisi. Dan sangat tidak ngefek bagi mereka yang kemudian kerja di bank, atau jadi agen asuransi.
Kalo nggak percaya, coba tanya kakak kelas kamu yang udah lulus dan bekerja, apa ketika mereka interviu kerja ditanyakan skripsinya apa? Jawabannya pasti nggak, karena gue juga yakin, pewawancaranya pasti nggak mau ngungkit-ngungkit dirinya sendiri pas dulu ngerjain skripsi. HINA!


Skripsi bagi institusi tentunya bermanfaat selain untuk ngisi pajangan di rak-rak buku, juga untuk menambah kekhasanahan dunia ilmiah. Tapi dari sisi mahasiswa, skripsi itu lebih banyak sia-sianya gue rasa, dan kayaknya yang membaca ini 90% setuju, bagi yang nggak setuju, coba cek diri kamu sendiri, jangan-jangan kamu zombie.
Walaupun memang, secara bawah sadar bagi orang yang membuat skripsi, mereka akan lebih pintar berpikir analitik. Seenggaknya salah satu sisi positifnya itu, yang lainnya salah semua.
tetapi disisi lain, ada yang sepakat, ada juga yang nggak sepakat ketika skripsi bakal nggak diwajibin bagi yang mau jadi sarjana. Kalo mahasiswa pada sepakat, itu udah lumrah. Cuma gue rada curiga sama mahasiswa atau orang yang nggak sepakat dengan usulan skripsi yang bakal diganti ini. Mungkin kalo skripsi udah nggak diwajibin, mereka bakal kehilangan bisnis perdukunan skripsi-nya.
Tapi gue nggak mau suudzon, siapa tau mereka emang pengin mempertahankan sistem skripsi sebagai syarat lulus, karena orang yang nggak bisa bikin skripsi, nggak bisa dibilang 'gentle', katanya. Bener memang, pressure makes you stronger.

---

Gimana donk solusi terbaiknya?
 

Kebayang kalo gue jadi rektor, gue akan lebih santai meluluskan mahasiswa-mahasiswanya, "Kalo lulus ya lulus aja, kenapa harus gue yang repot?!", kemudian lompat dari rektorat.

Seandainya kejadian mahasiswa yang mau lulus dikasih pilihan skripsi, penelitian, atau pengabdian masyarakat; gue rasa jatohnya akan jadi sama aja, yaitu mahasiswa yang lulusnya karena terpaksa.

Selama selalu ada patokan untuk lulus, akan ada aja cara mahasiswa untuk ngakalin jalan pintasnya, mahasiswa kan jenius. Dan ada alasan kenapa mahasiswa bisa berperilaku seperti ini, yaitu karena desakan.

Logikanya, mahasiswa kuliah sendiri, biaya sendiri, ngurus lulus sendiri, setelah lulus nyari kerja sendiri. Apa nggak gila?! Belum lagi ketika mereka harus dihadapi dengan kenyataan hidup: 12 tahun sekolah, 4 tahun kuliah, kemudian kerja seumur hidup.

Nah, harus ada solusi win-win antara mahasiswa dengan kampus sebagai pintu terakhir untuk bisa berkarier dalam hidup, salah satunya adalah mahasiswa dikasih kebebasan untuk milih jalan kelulusannya sendiri: sesuai dengan minatnya apa, passionnya apa, dan potensinya apa.
 

Karena nggak semua mahasiswa seneng penelitian atau pengabdian, ada aja mahasiswa yang suka bisnis, arahin lah mahasiswa itu untuk bikin bisnis plan dengan modal kecil. Ada juga mahasiswa yang suka jurnalis, bisa diarahin ke dunia jurnalistik. Ada juga mahasiswa yang seneng main game, bikinin mereka kompetisi game: yang menang lulus - yang kalah ngulang. Ini baru kompetisi sehat!

Hmm, jadi kepikiran. Kenapa dulu sekolah siswa-siswi masuknya bareng dan lulusnya bareng, sedangkan kuliah mahasiswa masuknya bareng tapi lulusnya sendiri-sendiri? Ini kan hal simple tapi ajaib. Satu alasannya, karena guru sekolah itu lebih perhatian sama murid-muridnya, lah kalo kuliah, jangankan perhatian, dosen yang inget nama mahasiswanya aja udah terancam punah.

Jangankan wacana skripsi yang dijadi pilihan, sebenernya -imho, sistem yang dipake saat ini pun masih bisa efektif, asalkan peran dosen sebagai 'pengganti orang tua di kampus' bisa dimaksimalin. Dimana mereka mampu memprioritaskan mahasiswa bimbingannya di atas semua kesibukan dan project-project mereka: mahasiswanya dibimbing dengan sabar dan asik, ramah dan baik, untung-untung SPP mahasiswanya dibayarin, dibayarin juga uang bulanannya, atau dijodohin sama anaknya yang cakep.

Gue rasa, apapun syarat kelulusan seorang sarjana, seandainya dosen bisa lebih perhatian, semuanya akan baik-baik aja. Ya gak?

Itu pendapat gue, gimana pendapat kamu?
 
 
:)


Senin, 28 September 2015

Buat Para Calon Mahasiswa Baru, Inilah Perbedaan Dunia Kuliah dan Sekolah



“Yeah LULUS!”
“Corat-coret! Corat-coret!”
Mungkin itu kata-kata itu yang keluar saat kamu melihat pengumuman kelulusan dari sekolah, entah secara online, surat yang dikirim ke rumah, ataupun lewat desiran angin yang membisikkan kata “kamu lulus” kalau kamu memang sekolah di perguruan pendekar calon Avatar.
Tapi tahukah kamu?
Lulus bukanlah akhir, namun merupakan awal. Awal dari penderitaan. Huwahahahah

Karena ketika memasuki dunia perkuliahan, kamu akan menemukan banyak perubahan. Kamu akan mengalami culture shock karena perbedaan itu.
Beruntung kamu lagi buka blog ini. Kalian sebentar lagi akan segera mendapatkan pencerahan tentang gambaran apa saja perbedaan dunia kuliah dan dunia sekolah.
Langsung aja, check these out!
1. Corat-Coret
Hal pertama yang dilakukan anak sekolah setelah menerima pengumuman lulus adalah
nyamperin orang tua terus cium tangan dan memeluknya lalu mencuci kaki ibucorat-coret. Kegiatan corat-coret ini menjadi agenda utama karena memang dari foto-foto dan cerita yang beredar di kalangan anak-anak yang udah duluan lulus, coret-coret sangat menyenangkan dan sarat makna.
Bayangkan saja, baju sekolah yang dulunya putih, kini dibuat menjadi colorful. Mungkin bagi beberapa orang yang addict terhadap online shop bakalan mencoret bajunya dengan motif tribal.
Semasa sekolah, yang dicoret adalah ini baju
gadis_sma_cantik_coret_seragam-615x350Saat kuliah, kelak yang akan dicorat-coret adalah tugas dan skripsi
Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.
Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.
2. Perlengkapan
Sekolah
via pennyappeal
via pennyappeal
Kuliah
IMG_0165
Cuma ini. Itu juga hasil minjem, kagak dibalikin lagi.
3. Jam Bangun
Sekolah
Jam 6 pagi
shutterstock_107370656-wake-up-stretch
Credit: Shutterstock
Kuliah
Jam 11 siang
Credit: Disney






Berangkat


Sekolah
via Tumblr
via Tumblr
Kuliah
via giphy
via giphy
6. Ngerjain Tugas
Sekolah
homework
Kuliah
via kopernik.ngo
via kopernik.ngo
ujung-ujungnya…
f320eb73be76285500464a4ebfd22f49
7. Di Kelas
Sekolah
via wolfvsgoat.com
via wolfvsgoat.com
Kuliah
Credit: Bloomberg
Credit: Bloomberg
8. Pacaran
Sekolah
Cukup jadi anak basket/futsal, punya motor, makan mie ayam bareng + bercanda, langsung jadian.
Kuliah
Udah UKM basket/futsal, udah punya motor, bahkan udah kerja, ngajak makan + nonton, bercanda juga udah. Tapi tetep jomblo juga.
Credit: Cartoon Network
Credit: Cartoon Network

Menurut kalian, apa lagi bedanya sekolah dan kuliah? Yuk tulisin di kolom comment di bawah!




Rabu, 01 Juli 2015

Kalimat-Kalimat yang Dipakai untuk Menyembunyikan Perasaan

Permainan petak umpet waktu kecil ternyata berefek buruk bagi anak-anak yang maininnya. Petak umpet adalah permainan di mana ada satu orang yang jaga, dan yang lain bersembunyi. Itu menyenangkan kalau dilakukan waktu kecil. Namun semuanya berubah ketika beranjak dewasa. Permainan petak umpet menjadi menakutkan, sekaligus menyakitkan, karena yang di-petak-umpet-kan bukan lagi badan kita, tapi perasaan.
Lebih menyesakkannya lagi, seringnya main petak umpet sendiri. Diri sendiri yang ngumpetin perasaan, dan diri sendiri yang menjaganya.

Banyak alasan yang dijadikan pembenaran oleh orang-orang yang sedang menyembunyikan perasaan. Ada yang tetap bersembunyi karena nggak mau ngalahin gengsi, ada yang bilang menyembunyikan perasaan karena rasanya mustahil menggapai si dia, ada yang memutuskan menyembunyikan perasaan karena takut merusak kedekatan yang sudah terjalin, sampai yang paling pahit, menyembunyikan perasaan karena harus, karena dia sudah milik yang lain.
giphy
Nggak ada orang yang menyembunyikan sesuatu tanpa usaha. Sayangnya, usaha menyembunyikan sesuatu itu selalu terkesan seperti sedang berbohong. Ya memang, daripada ketahuan sedang menyembunyikan perasaan, entah itu suka, cinta, atau cuma kangen, orang itu biasanya menutupinya dengan ini…
“Apa kabar?”
Nggak ada “Apa kabar?” yang benar-benar “Apa kabar?” Pertanyaan ini bisa banget sebenarnya berarti “Apa kabar sama pacar kamu? Kapan putus?” atau “Apa kabar hati kamu? Masih mencintaiku?…….. Hahaha, nggak deh, hati kamu mana pernah kayak gitu.”
Untuk urusan mantan, pertanyaan ini sering kali terlontar dan diikuti dengan “Ke mana aja? Sombong deh.” Padahal niatnya mau bilang “Kamu makin cakep. Aku kangen,” jadi berbelit-belit dan basi kayak gitu.
Biasanya lagi, akan bawa-bawa orang lain buat makin menutupi perasaan, misalnya dengan bawa-bawa mama. “Mama nanyain kamu.” Mama di sana mungkin maksudnya hati.
Pada tingkatan lebih absurd lagi, sampe anggota-anggota keluarga lain ikut dibawa juga. “Papa ngajak main catur tuh,” “Kakak pengen ditemenin ke bengkel tuh,” sampe “Si bibi ngajak nyuci bareng tuh.”
“Ada tugas nggak?”
Ini sangat berlaku buat secret admirer.
Orang yang lagi jatuh cinta, pastilah pengen ngobrol banyak sama orang yang lagi dia suka. Tapi keadaannya menjadi sulit ketika suka + gengsi – gengsi (tapi gak punya bahan obrolan) = kikuk.
Karena kikuk, jadilah apa juga ditanyain, contohnya tugas itu. Tugas dijadikan lahan modus bagi mereka yang menyembunyikan perasaan supaya bisa kontekan sama sang idaman. “Eh, ada tugas nggak?” Niatnya sih nanya kayak gitu biar obrolannya manjang, eh apesnya dibalesnya singkat doang, “Gak tau.” Atau kalau dia gaul balesnya, “Gx tw.”
Emang gitu sih orang yang lagi nyembunyiin perasaan mah, demi mengisyaratkan “gue kangen” atau “gue suka” tapi pake ditutupin sampe pertanyaan paling nggak penting sekalipun ditanyain, “Eh, penggorengan di rumah aku bentuknya oval loh, kalo di rumah kamu kayak gimana sih? Oval juga apa limas segitiga?”
“Minjem catetan dong!”
Kalau suka sama orang emang bawaannya pengen ketemu lagi, ketemu lagi. Dan teknik paling standar, basi, tapi masih ampuh dalam usaha mendekati sambil menyembunyikan perasaan.
Bilangnya sih minjem catetan, padahal dia juga udah nyatet. Minjem biar ada alasan biar kalau catetan dia ditanyain, dia ingat nama kamu dan nyebutin nama kamu. “Lagi dipinjem sama si kupret, tuh!” Misalnya. Dan yang pasti, kalimat ini sering dipake buat nyembunyiin perasaan ingin ketemu terus sama si gebetan.
“Cuma temen kok.”
Kalimat ini sering digunakan bagi mereka yang sudah dekat, sudah dekat, dekat banget, sampe-sampe bikin orang-orang di sekitarnya, khususnya teman-teman terdekatnya bingung lalu bertanya, “Kalian ini sebenernya gimana sih?” atau “Kalian deket banget, jadian ya?”
Tapi semuanya terbentur karena perasaan yang terus kamu sembunyikan, atau mungkin pas ditanya orangnya ada di situ, jadilah hanya bisa bilang, “Iiih apa sih, cuma temen kok.”
Padahal dalam hati “Cuma temen kok. Pengennya sih lebih, tapi dianya gak nembak-nembak.” #eaaa
“:)”
Dan inilah yang paling sering orang gunakan untuk menyembunyikan perasaan. Misalnya ketika gebetan yang selama ini dideketin akhirnya malah jadian sama yang lain, atau ketika kangen tapi orang yang dituju nggak kunjung nyadar. Bisa saja orang itu nulis :), padahal hatinya :'(, :'(((((, atau bahkan :”””””””””””””( </3.
Dari semua itu, ada satu hal yang pasti.
Apa pun alasannya, apa pun cara yang digunakannya, tujuan dari menyembunyikan perasaan adalah: untuk ditemukan.
Sayangnya, nggak semua orang dapat mewujudkan tujuannya.

Sabtu, 07 Februari 2015

Kadang Pertemanan Menjelma Menjadi Pembunuh Sebuah Cinta

Sebuah bangkai bisa jadi tak akan pernah tercium selamanya… jika seseorang yang mencium baunya pura-pura tidak mencium, atau menyangkal sedang mencium bau bangkai.
Namun perasaan cinta bukanlah bangkai. Meski terselip dalam sebuah hubungan rumit bernama “pertemanan”, perasaan tetaplah perasaan. Gue orang yang percaya pada sebuah ungkapan…
Cewek dan cowok tidak pernah bisa menjadi best friend sepenuhnya.
Intensitas ketemu, ngobrol, dan saling terbuka mungkin saja perlahan, sedikit demi sedikit menumbuhkan benih-benih cinta, atau minimal suka. Dalam sebuah pertemanan seorang cowok dan cewek, bisa aja ada salah satu pihak yang sempat berpikir, “Dia baik banget. Mungkin gak sih gue suka sama dia? Apa mungkin kita jadian?”
“Kalau bukan suka? Kenapa gue cemburu kalo dia sama yang lain? Padahal kita cuma temen.”
Dan akhirnya pemikiran dan perasaan itu dibunuh dan dikubur dalam-dalam dengan batu nisan bertuliskan “atas nama pertemenan” tertancap di atasnya.
Dari contoh di atas, kadang gue berpikir pertemanan itu kejam. Sebuah pertemanan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin, kemudian tumbuh rasa-rasa di dada. Apakah itu semua salah manusia? Bukankah cinta datang sendirinya tanpa diduga-duga?
Banyak orang yang rela membunuh rasanya sendiri hanya untuk menyelamatkan kedekatan dengan dia (dalam wujud teman) yang dipuja, dan untuk tetap bisa menjalani kebiasaan-kebiasaan bersamanya (meski dalam wujud teman).
Sederhananya, ada yang memilih memendam rasa hanya karena takut jadi jauh karena dia gak punya perasaan yang sama.
Miris, memang. Namun apa daya? Memang kadang rasa cinta yang tiba-tiba ada bisa menghancurkan jalinan pertemanan yang sudah dibangun sejak lama. Atau sebaliknya, status pertemanan yang ada membunuh sebuah cinta yang bersemi tiba-tiba.
“Nggak kok. Gue sama best friend gue gak ada rasa apa-apa.”
Mungkin kamu bilang nggak. Mungkin dia bilang nggak juga pas ditanya.
Tetapi di dalam hati, gak ada yang pernah tau… bahkan diri kamu.
Lalu, siapakah yang berharap dalam hubungan pertemanan kamu dengannya? Dia, atau kamu?
Dan sampai kapan mau membohongi diri sendiri?
Pertanyaan terakhir dalam hidupmu adalah…
Apakah pertemanan dan kedekatan itu lebih berharga dari rasa cinta yang tercipta? Dan apa kamu tega membunuhnya?

Kamis, 08 Januari 2015

maaf








Nila setitik rusak susu sebelanga.
Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya. Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding yang positif.
Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik itu bisa merusak susu sebelanga banyaknya? Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan/keburukan, kontan semua kebaikannya seakan luruh, sirna, sia-sia.
Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”
Tentu saja hal itu diperlukan, agar apa? Agar kita menjadi hamba yang pemaaf, tidak melebihi sifat Tuhannya, namun berusaha mengikuti jalan-Nya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan tadi, mesti ditambah sebaliknya, “Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.
Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan.

PENDIDIKAN GAK SEBATAS NILAI BAGUS

Pendidikan itu gak sebatas nilai, ipeka, raport, transkrip, prestasi, sertifikat, atau ijazah doank sih. -____- Tapi kenapa banyak fenomena mahasiswa ngejar obsesi begituan ya? Tanya kenapa? Coba kita liat Om Roy Suryo, dia itu orang IT loh. Kerjaannya maen photoshop, tapi malah disuruh jadi menpora pas zamannya SBY, Absurd kan? Mungkin ini tanda bahwa jurusan kuliah bukan patokan profesi masa depan. *hmmm nyambung
Ngomong-ngomong soal menpora, gue jadi keinget sama pegawas ujian (emang gak nyambung). Gue keinget sama pengawas karena mereka adalah manusia paling kepo se-du-ni-a, karena apa? Karena setiap ujian, mahasiswa yang duduk di belakang selalu ditanya, "Eiy itu yang di belakang, lagi ngobrolin apa hayooo?!" *kepo kan? kepo kan? Oke abaikan pengawas ujian yang kepo. Sebenernya gue mau share tentang sebuah buku. LAH? KEMANA ARAH PEMBICARAAN INI?!!
Setelah hunting dari jaman belanda, akhirnya gue dapet sebuah buku bagus. Judulnya "Rich Dad Poor Dad", karya Robert Kiyosaki. Kenal gak? Itu loh... hmm... enggak kenal juga si. Kata orang buku ini bagus, setelah gue baca, gue kecewa karena dibohongin orang, soalnya buku ini bagus banget. 

Baru baca BAB pengantar, gue udah sepakat sama sebuah kutipan,

"Pendidikan baik dan ranking baik tidak menjamin kesuksesan."
Bagus kan? Hmm... Baru baca beberapa BAB, gue boleh bilang kalo buku ini lebih dari sekedar buku motivasi, karena buku ini juga ngajarin kita beberapa gerakan kama sutra, ngaco! Maksud gue buku ini ngajarin kita biar bisa mengubah pola pikir kuno ke pola pikir modern. Banyak hal yang gue sepakatin bahwa pola ajaran keluarga yang selama ini gue dapetin ternyata salah kaprah, misalnya pola ajaran kayak gini, "Belajar yang bener, biar dapet nilai bagus, biar bisa kuliah di univ bagus, biar nanti bisa kerja di perusahaan bagus! Awas kalo nilai jelek, gue pecat jadi anak!"
Om Kiyosaki dalam bukunya nyeritain kehidupan dia yang punya 2 ayah (mungkin ibunya poliandri). Bahwa, ayah pertama adalah ayah yang miskin (poor dad), dan ayah kedua adalah ayah yang kaya (rich dad).

Hal yang mencengangkan, ternyata ayahnya yang miskin adalah ayah bergelar Phd, dan ayah yang kaya cuma lulusan SD -- SMP gak tamat. 
enapa ayahnya yang bergelar doktor adalah ayah yang miskin?

Diceritakan bahwa, beliau adalah seorang anak yang cerdas, lulus Sarjana 4 tahun ditempuh dalam waktu 2 tahun (buset) dengan predikat pujian summa cum laude (buset lagi), terus dia melanjutkan kuliah di univ bergengsi sampe punya gelar Phd (buset buset buset), dan semuanya karena beasiswa (buset buset buset buset buset *berbusa).

Ternyata setelah menjalani kehidupan berkeluarga, gelar dan prestasi pendidikan nggak menjamin hidup keluarganya yang kaya, malah ketika ayahnya yang miskin meninggal, beliau meninggalkan beberapa utang pajak dan tagihan-tagihan lainnya.

Sedangkan ayahnya yang kaya dan cuma lulusan SD -- gak tamat SMP, menjadi ayah yang kaya karena pola pikirnya yang kaya: punya aset perusahaan, punya investasi di mana-mana. Ayahnya yang kaya justru mengajarkan bagaimana mengelola uang yang nggak diajarin di pelajaran sekolah, atau bahasa kerennya financial quotient (kecerdasan finansial).

Om Kiyosaki belajar banyak hal dari kedua ayahnya, beberapa kutipannya,

"Ayah saya yang miskin mengajarkan saya belajar giat agar nanti bisa kerja di perusahaan bagus, sedangkan ayah saya yang kaya mengajarkan saya belajar giat agar nanti bisa membeli perusahaan bagus."
"Sekolah ngajarin kita biar bisa ahli dalam pendidikan itu, tapi sekolah gak ngajarin kita gimana cara mengelola uang." (R. Kiyosaki) Banyak statement di bukunya yang gue pikir ada benernya juga. Enggak heran buku ini jadi international best seller.

-------- But anyway, tulisan ini bukan lagi promosi buku, cuma menurut gue buku ini bagus buat kita baca. Ya... saatnya membuka jendela, biar wawasan kita gak sempit kayak sempak, eh.

Rabu, 31 Desember 2014

writing about u







write about you just to tell you that you are more than beautiful for me.
I write about you just to keep you in my mind, in my life. Maybe that’s the only thing I could do to keep you around me.
I write about you just to keep me awake and to disenchant me that you are just a dream. And it’s too good to be true.
Writing about you is the only thing that keep me away from insanity. At least, I stay at the ‘delusionally unwell’ level.
I make beautiful writings I could ever done about you just to remind me you’re the best thing ever happened to my life.
Writing about you is just about reading all the memories with you, and whispering all my hopes to you.
I write about us because I’m afraid that you will erase all the memories. And I’m too afraid there will be no “us” at all.
Unfortunately, you never understood. Or I haven’t been good enough to make you understand.


Jumat, 28 November 2014

LIFE TIME FRIEND

Persahabatan ...



Hmm.. dalem ya? I,
Kalo kalian mau tau, ketika gue menulis itu, gue menulis dengan spontan. Sedih kan kalo punya temen deket, yang janji pengin berjuang bareng-bareng, eh di tengah jalan ditinggalin.

Kok jadi melow gini sih !?

Jadi mau curhat nih. Lah emang tadi bukan curhat!?

Entah kenapa ya, mungkin kamu-kamu juga sering mengalami ini. Setiap kali punya teman dekat, lingkungan dengan sendirinya bakal menseleksi mereka: ada yang bertahan bersama, ada juga yang kemudian menghilang entah kemana.

Apalagi kalo bicara soal cita-cita bersama, di awal kita punya komitmen, sama-sama kuat, sama-sama semangat. Tapi, ketika kita jatuh tersandung di tengah jalan, kita berusaha saling merangkul untuk kembali bangkit, tapi di saat diri kita masih mau melanjutkan berjalan, satu yang lain memilih untuk tetap terjatuh.

Tulisan gue keren ya?

Anyway vroh, udah berapa kali kamu dikecewain teman PHP yang mengaku sahabat?
Udah hilang waktu, hilang energi, hilang pikiran, hilang ingatan, semuanya hilang. Sakitnya tuh ...


Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang seperti mereka, biar kita tau seseorang yang bisa jadi life time friend.

Mungkin di masa depan nanti, jika waktu mengizinkan kita bertemu lagi dengan mereka, hal yang ada hanyalah sebuah kecanggungan. Yang dulu sering sapa-sapaan, sekarang nyetor muka aja segan. Begitulah sebuah komitmen gadungan, seperti pisau bermata dua, kalo kita nggak kuat memegangnya, hanya akan memberikan luka.

Sedikit emang, sahabat yang bener-bener setia menemani saat susah, karena teman yg ada ketika kita senang saja, mereka itu sebenar-benarnya kampret. Mungkin di akherat, mereka barisnya di depan Dajjal.

Yang banyak itu, teman yang kerjanya cuma mentingin kepentingan sendiri. Banyak banget model temen yang begini. Manis di mulut, pait di congek, asin di upil. Kok jadi jorok.

Memang ada benernya nasihat lama, sebaik-baiknya teman adalah teman yang membantu kita karena Tuhan.

---

Ngomong-ngomong soal life time friend, agak susah nyari temen yang model begini. Temen yg ketika kita salah, dia nggak segan negur kita, temen yg nggak tersinggung kalo kita ngecengin dia, temen yg ketika kita makan ki-ef-si, dia nggak segen ngambil kulit ayamnya, temen yg ketika minjem motor, suka males ngisiin bensin.

Life time friend mungkin satu-satunya temen kita yang paling kampret. Tapi dari ke-kampret-annya dia, dia masih tetep care dan stay aside ketika kita lagi banyak masalah. Dialah orang yg paling bijak ngasih solusi tentang urusan asmara kita, walaupun nyatanya dia jomblo. Dialah teman yang paling ngerti urusan financial kita, meski dompet dia juga jadi sarang laba-laba.

Life time friend bagi gue adalah temen yg nggak punya alasan untuk berteman dengan kita.

Love your friend. :)

PENEMUAN SEDERHANA

Seandainya ada mesin waktu, apa yang bakal elo lakukan?

Kalo gue pasti banyak. Salah satunya adalah pergi ke masa lalu.

Sebagai mahasiswa intelek, kita jangan hanya menuntut perubahan, tapi tawarkanlah solusi. Maka kemudian, gue akan menawarkan kepada pencipta skripsi pertama untuk mengubah skripsi menjadi... K.L.I.P.I.N.G. <YEAH!>
Kalo misal gue gak berhasil ketemu sama penemu skripsi di masa lalu, gue gak akan kehabisan akal. Dengan mesin yang sama, gue akan pergi ke masa depan. Di masa depan, gue bakal nyari diri gue yang udah jadi Doctor (semoga ya Tuhan), kemudian minjem disertasi dia yang udah jadi.

Dan saat gue kembali ke masa sekarang, gue akan langsung bimbingan dan membuat dosen bimbingan gue terkapar berbusa karena melihat skripsi gue yang udah setara disertasi. *kemudian dosen gue sujud-sujud *gue dikeplak
  
Hoaaam... sayangnya itu cuma mind-fantasy aja, walaupun pernah ada orang yang mengaku datang dari tahun 2036 pake mesin cuci waktu, namanya John Terry, hmm... maksudnya John Titor.

Anyway, dengan adanya cerita mesin waktu di atas, kita jadi lebih pandai berimajinasi. Ya... imajinasi adalah dasar seseorang menciptakan sebuah kreasi. Sama juga kayak bikin skripsi -skripsi juga butuh imajinasi, karena di dunia ini masih banyak misteri yang perlu kita teliti, asik. beberapa tweet yang gue kutip sebagai berikut,
semoga mahasiswa2 biologi berhasil menemukan cara biar uang bisa membelah diri kayak amoeba. #penemuan
semoga mahasiswa kehutanan segera menemukan bibit duit. #penemuan
semoga mahasiswa hubungan internasional segera menemukan hubungan dgn jodohnya, jiaha. #jomblo #penemuan
semoga mahasiswa transportasi bisa menemukan pintu kemana saja biar gak kena macet terus #penemuan )
semoga mahasiswa teknologi pangan bisa menemukan pil kenyang, anak kos minum pil ini ga makan seminggu #irit #penemuan )
semoga mahasiswa geografi bisa memetakan jalan menuju surga #penemuan (@irlansah)
Coba kita liat kecenderungan tweet-tweet di atas, kita bisa tau bahwa sebenernya kita itu punya banyak masalah: entah masalah keuangan, cinta, macet, sampe masalah yang gak penting kayak kehabisan celana dalem (gak penting kan?).

Nah, sekarang kita tengok negara-negara maju. Di negara mereka, banyak mahasiswa yang berlomba-lomba membuat kreasi baru atau penemuan baru. Lah kalo di negara kita? Kebanyakan kita berlomba-lomba biar cepet lulus. Alhasil, banyak sarjana-sarjana yang kemudian menyesal dan bilang, 
"Seandainya gue masih jadi mahasiswa, pasti ongkos angkot jadi lebih murah.", begitulah rasa penyesalan mereka yang udah jadi sarjana. *emang gak nyambung
Anyway, penemuan adalah sebuah solusi, begitu juga dengan skripsi. Dan bagi elo yang belom sadar bahwa skripsi adalah solusi atas masalah, maka... sadarlah kawan, anda berada di jalan yang sesat.

Gini gini, maksud gue adalah, saat ini -yang sama-sama kita tau- bahwa skripsi cuma dijadikan sebuah formalitas. Mau bukti, coba liat di hardcover temen-temen elo yang udah beres, pasti di lembar skripsinya tertulis,
"Skripsi, sebagai syarat lulus untuk memperoleh gelar sarjana."
Gue berpikir (ciee bisa mikir), kayaknya kalimat di atas (yang gue kutip) enggak perlu ditulis kali ya? Karena bakal membuat persepsi yang aneh, seperti gue. --"

Hmm.. skripsi itu kalo bisa jangan dijadiin syarat lulus doank kali ya? Maksudnya, skripsi emang gak perlu bagus, tapi tetep buat skripsi yang berkualitas, soalnya sayang aja kalo skripisi udah susah-susah dibuat, malah cuma jadi pajangan. Ya gak? asik.

Nah, sebenernya gue pengin bikin tulisan yang bisa mengajak kalian biar nggak stres mikirin skripsi yang belom beres, dan setelah gue baca ulang tulisan gue sendiri, sepertinya gue gagal. ("_ _)/|

At least, bagi kalian yang lagi kesulitan nyari ide penelitian, saran gue, elo mesti pinter ngeliat masalah. Dan setelah ngeliat masalah, elo berpikir mencari solusi. Itu tuh, alur sederhana dalam mencari ide penelitian/skripsi. Atau formula sederhananya begini,
Analisa masalah > berpikir solutif > ide penelitian
Sederhana kan? Santai santai, gue emang hebat. *dikeplak

So, jangan lagi bingung nyari ide atau bikin skripsi ya? Karena di dunia ini masih banyak misteri yang perlu kita teliti, asik.

Dalam membuat skripsi, kita gak dituntut untuk membuat penemuan heboh, tapi kita dianjurkan mengerti bagaimana menemukan solusi untuk suatu masalah.  

Udah ah. *terbang